Jumat, 26 Juli 2013

Cerita Sex Penjaga Kantor yang lugu



Cerita Sex Penjaga Kantor yang lugu - Beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengan calon suamiku, seorang dokter muda yang baru mulai praktek. Ketika ia mulai mengunjungi rumahku, dan mulai menunjukkan minatnya terhadapku, kedua orang tuaku menunjukkan rasa senangnya. Maklumlah siapa yang tidak mau punya menantu seorang dokter. Apalagi mas Heru adalah dokter yang sedang mulai ‘naik daun’ di kota kediamanku. Tapi untukku dia orangnya terlalu serius, dan selalu berbicara tentang pekerjaannya. Seolah-olah tidak ada hal Ketika mas Heru datang di dampingi kedua orang tuanya, lalu ayahku menanyakan kesediaanku untuk dilamar mas Heru, pada waktu itu rasanya tidak ada jalan lain kecuali menerimanya. Pesta pernikahanku memang cukup meriah, terutama untuk ukuran kota kecilku. Tidak lama setelah itu mas Heru, yang telah dipindah-tugaskan ke kota Bandung, memboyongku ke tempat kediamanku yang baru.

cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep

Benar saja ternyata tepat apa seperti apa yang telah kuperkirakan. Di kota Bandung aku kesepian dan segera merasa jenuh. Teman-temanku belum banyak, sedangkan mas Heru terlalu larut dalam tugas-tugasnya. Nikmatnya kehidupan perkawinan, seperti yang pernah digambarkan kakak-kakakku, ternyata tidak kualami. Bukan hanya secara sosial lingkungan mas Heru terasa begitu membosankan, kehidupan seksualku dengannya juga terasa hambar.

PENJAGA KANTOR

Dalam keadaan hampir tidak tahan lagi seorang wakil perusahaan farmasi, yang kebetulan menjadi relasi suamiku, datang mengunjungiku. Dimintanya kesediaanku untuk menjadi agen penyalur obat-obatan produksi perusahaannya. Katanya menurut pengamatannya aku orangnya supel, lincah dan cantik, bahkan kelihatannya mempunyai bakat untuk meyakinkan orang lain dengan mudah. Dengan ‘training’ dan dukungan teknis perusahaannya aku akan mampu mengembangkan usaha sebagai penyalur obat-obatan. Karena tertarik kuminta ijin suamiku. Pada mulanya ia nampak keberatan, tapi setelah kurayu terus-menerus akhirnya mas Heru setuju juga. Katanya aku boleh mencoba usaha baru ini, dengan syarat tidak memasarkan obat-obatan yang kuageni di kota Bandung. Berarti dengan demikian aku harus mau melakukan kegiatan-kegiatan ‘marketing’ku di kota-kota lainnya, walaupun masih di sekitar Bandung juga.

Setelah membuat kalkulasi yang cukup mendalam, aku putuskan untuk mulai melangkah. Kusewa sebuah ruko agak besar di Jalan Soekarno-Hatta, supaya dapat dijadikan kantor sekaligus gudang. Aku sendiri yang melakukan perjalanan-perjalan untuk pemasaran, malah kadang-kadang sampai berhari-hari. Tanpa diduga hanya dalam tempo enam bulan kegiatanku sudah menampakkan tanda-tanda keberhasilannya. Dengan keadaan yang semakin berkembang bertambah pula karyawanku, termasuk untuk bidang pemasarannya. Tapi beberapa pelanggan yang telah kubina sejak awal, termasuk di antaranya beberapa rumah sakit dan apotik ternama, tetap kutangani sendiri. Karena itulah walaupun usahaku kelak semakin maju aku sendiri tetap melakukan perjalanan-perjalanan yang cukup melelahkan, dalam rangka memelihara hubungan dengan pelanggan-pelanggan lamaku.

Di kantorku pegawai yang paling tua bernama pak Solichin, dan sebagai penghargaan sering kupanggil mang Ihin. Barangkali karena dia sendiri merasa akrab denganku dipanggilnya aku Neng Yasmin, atau kadang-kadang Neng Mimien. Tanpa kuduga ternyata sebutan untukku ini akhirnya menjadi populer di antara karyawan-karyawanku. Mereka resminya tetap menyebutku Bu Yasmin atau Bu Heru, tapi tidak jarang juga Neng Mien atau Neng Mimien. Karena aku masih muda, dengan usia yang tidak terlalu jauh berbeda dari pegawai-pegawaiku, kubiarkan saja mereka menggunakan sebutan akrab ini. Di antara karyawanku ada seorang pemuda bernama Adli. Ia masih muda, tetapi sudah berkeluarga dengan satu orang anak. Orangnya hitam manis, gagah dan tampan, tetapi lugu sekali. Kelihatannya pendidikannya tidak terlalu tinggi. Barangkali malah tidak sampai tamat SMP atau SMA.

Walaupun demikian kesetiaannya sangat bisa diandalkan, bahkan caranya membela apa yang dianggapnya sebagai kepentinganku sangat fanatik. Dia mulai bekerja di tempatku sebagai penjaga malam, alias satpam, dan ternyata sangat baik menjalankan tugasnya. Karena dia juga pandai ilmu-ilmu bela diri, seperti silat dan sebagainya, beberapa stafku mengusulkan supaya dia menjadi pengawalku. Khususnya dalam perjalanan-perjalananku ke keluar kota. Apalagi akhir-akhir ini keadaan di wilayah sekitar Bandung dirasa kurang aman. Jadi mulailah Adli ikut mendampingiku keluar kota. Ternyata pengaturan ini sangat memuaskanku, karena orangnya lucu dan jenaka. Sering-kali aku merasa terhibur dengan lelucon-lelucon ataupun gayanya yang kocak. Di samping itu ada lagi kelebihannya, sebagai seorang jago silat Adli juga pandai mengurut dan memijat. Maka bukan sekali dua-kali aku sempat memanfaatkan kebolehannya ini.

Pada suatu hari aku harus melakukan kunjungan ke kota-kota Sumedang, Kuningan dan Cirebon. Endah, seorang tenaga pemasaran yang biasa mendampingiku, kali ini tidak bisa ikut bersamaku. Kebetulan orang-tuanya jatuh sakit. Karena mas Heru tidak keberatan pergilah aku dengan supirku, tentunya di kawal juga oleh Adli. Aku meninggalkan kota Bandung dengan perasaan enteng saja. Tidak terbayang bahwa nantinya akan terjadi sesuatu yang akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupanku.

TIDUR BERSAMA

Semua urusanku di Sumedang berjalan lancar, bahkan mungkin lebih banyak waktu yang kugunakan ngobrol dengan langganan-langgananku daripada betul-betul menangani masalah bisnisnya. Sesuai rencana untuk malam pertama ini kami menginap di Sumedang. Kupilih kamar yang baik dan bersih untukku, lalu aku mandi menyegarkan diriku. Ketika mencoba untuk tidur ternyata aku tidak merasa mengantuk sama-sekali. Sulit sekali bagiku untuk memicingkan mataku. Akhirnya daripada kesal sendirian kusuruh Adli datang ke kamarku. Akan kuminta dia memijatku, sambil aku nanti mendengarkan cerita-ceritanya yang jenaka. “Ada apa neng?” … tanya Adli sambil memasuki kamarku

Kuminta Adli memijat punggungku. Sebagai karyawan yang setia ia mau saja. Setelah beberapa saat kuminta ia menduduki pantatku, maksudnya supaya tekanan pijatannya lebih terasa. Santai saja kubiarkan ia mengurut dan memijati punggungku yang agak terbuka, karena jenis daster yang kukenakan memang seperti itu. “Neng, panas yah! Saya sampai keringetan!” Dengan lugunya Adli mengeluh kepadaku. Santai saja kutanggapi kata-katanya, … “Ya buka aja kaosnya!” Setengah geli dan juga kesal aku melihat dia langsung membuka kaosnya dengan tanpa ragu sedikitpun. Lalu kembali dia memijati punggungku. Tidak berapa lama kemudian terdengar Adli berbicara lagi, … “Neng … Neng Mimien, maaf ya Neng kalau ada yang mengganggu.” Polos betul anak muda ini. Begitu sopan dan lugu, tapi juga gagah pembawaannya. Memang aku sendiri merasakan ‘ada sesuatu’ sesuatu yang mengganjal di atas pantatku. “Kenapa sih memangnya?” Tanyaku dengan maksud mau mengganggunya. Jawabannya yang polos membuatku geli, tapi juga terangsang. Dengan sangat lugu dia menerangkan, … “Iya Neng, udah seminggu belom kesampean … eh … gituan.” Kutanya lagi, … “Kok bisa?” … “Iya abis kan udah tiga hari ini sibuk di kantor, abis itu diminta nganterin Neng keliling.” Lalu sambungnya lagi, … “Padahal sebelom berangkat istri saya lagi … itu tuh Neng … datang bulan.” Karena kepingin tahu kutanya terus, … “Jadi gimana dong?” Keluguan dan kepolosannya semakin terlihat sewaktu dia menjawab. “Yah pusing aja … Apalagi ngeliat punggung Neng Mimien kenceng begini, kayak istri saya aja …, bedanya neng lebih putih aja.” Agak menahan tawa kuanjurkan padanya, … “Yah kalau pusing dilepas aja pakai tangan di kamar mandi sana.” Usulanku ini ternyata ditanggapi dengan serius oleh Adli. “Iya yah Neng, bener juga, kalau gitu ditinggal sebentar ya Neng.” Adli berdiri lalu melangkah kearah kamar mandi. Seakan-akan tanpa beban apapun ditinggalnya aku sendiri begitu saja. Masih terlihat olehku tubuhnya yang ramping, kekar dan berotot itu. Tanpa sadar kutelan ludah. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di kerongkonganku.

Karena bosan dan juga ingin tahu, kalaupun belum karena dorongan gairah, kususul Adli ke kamar mandi. Ternyata pintunya tidak terkunci. Pelan-pelan kubuka pintunya dan akupun masuk dengan rasa penasaran. Adli tidak menyadari kehadiranku di dekatnya. Terlihat dia sedang berdiri menyandar pada bak mandi. Tubuhnya dalam keadaan telanjang, karena tadi baju kaosnya sudah kusuruh lepas waktu sedang memijatiku. Walaupun kulitnya agak gelap, secara keseluruhan dia terlihat gagah. Celana pendeknya masih menggantung di pahanya, karena rupanya hanya dilorot sebagian. Terlihat matanya terpejam menikmati apa yang sedang dilakukannya. Dari gerakan pada lengannya kutahu dia sedang mengocok ‘barang kepunyaan’nya. Segera kutujukan mataku ke arah selangkangannya. Apa yang kulihat saat itu membuatku kagum, bahkan membuat nafasku sesak tersengal-sengal. Tangan Adli sedang menggenggam ‘alat kejantanan’nya, yang kelihatan besar dan panjang sekali. Sangat berbeda dengan kepunyaan mas Heru yang ukurannya sedang-sedang saja. Ujung kepala ‘kemaluan’nya bulat, keras dan mengkilat. Seperti orangnya warnanya juga cokelat tua agak kehitam-hitaman. Adli masih terus mengocok-ngocok ‘barang kepunyaan’nya yang mengagumkan itu. Karena matanya terpejam dia tidak menyadari bahwa aku telah semakin dekat dengannya. Aku juga terbawa untuk memejamkan mataku. Terbayangkan olehku hal yang tidak-tidak yang juga membuatku terangsang.

Kurasa sesuatu yang menggelegak dalam diriku. Sekali lagi aku sampai menelan ludah. Lalu kuberanikan diriku untuk menyapanya, … “Adli! Besar amat sih ITU-nya?” Adli terlihat sangat terkejut. Tersipu-sipu ia berkata, … “Aduh Neng, kok ada di sini … Aduh maaf Neng!” Segera kutenangkan dia, … “Nggak apa-apa, nggak apa-apa kok.” Lalu sambil mengulurkan tanganku ke arah ‘tonggak kejantanan’ Adli aku berkata, … “Coba lihat dong! Ukurannya kok sampai sebesar ini sih?” Malu-malu dia berusaha menghindar, tapi terpegang juga olehku ‘barang kepunyaan’nya. Lucunya setelah terpegang dia tidak terus berontak, malah dibiarkannya aku mengusap-usap ‘alat kejantanan’nya itu. Setelah aku usap-usap Adli terlihat sudah mulai mampu menguasai diri lagi. Malah rupanya keberaniannya timbul kembali. Dengan gaya lugunya dia bertanya, … “Emangnya besar ya Neng punya Adli?” Aku mengangguk mengiyakan. Hampir tertawa aku ketika Adli menanyakan, … “Tapi istri saya kok nggak pernah bilang apa-apa yah?” Kujawab saja sekenanya, … “Wah dia nggak ngerti suaminya punya barang hebat” … “Eh ngomong-ngomong mau diterusin nggak?” Dengan manis dan lugu Adli mengangguk, … “Kalau nggak diterusin entar pusing Neng.” Tidak mampu menahan diri lagi langsung kutawarkan padanya, … “Mau saya bantuin nggak?” Terlongo Adli memandangku dan bertanya, … “Emangnya Eneng mau?” Sambil tersenyum genit aku berkata kepadanya, … “Kalau untuk kamu mau dong, … tapi jangan di sini ya, di kamar aja yuk!”

Kutarik tangan Adli dan menuntunnya kembali ke kamar tidur. Kuarahkan supaya ia duduk membujur di atas ranjang, lalu aku menelungkup di hadapannya. Kedua tanganku mulai mengusap-usap ‘batang kejantanan’ Adli. Ukurannya memang luar biasa. Tadi dalam keadaan Adli berdiri, kalau ‘batang keras’nya ditegakkan sepertinya panjangnya sampai ke pusarnya. Sekarang dalam keadaan dia duduk panjangnya jelas meliwati pusarnya itu. “Aduh Neng, geli banget!” Erang Adli. Kedua lengannya mengencang menyangga tubuhnya, sampai terlihat otot-ototnya menonjol gagah. “Adli! Adli! Besar amat ya kepunyaan kamu ini, katanya orang Arab yang itunya gede-gede begini,” … demikian aku membuatnya bertambah semangat. Ternyata Adli mengiyakan sinyalemen ini dengan menerangkan, … “Iya Neng, kakek Adli dari emak memang keturunan Arab.” Pantaslah kalau begitu. Beberapa saat hening tanpa ada suara, sementara aku terus mengocok-ngocok lembut ‘barang kepunyaan’ Adli. Sampai akhirnya terdengar lagi Adli bertanya, … “Neng, katanya kalau orang bule seneng ngemutin pake mulut yah Neng?” Pertanyaan ini kurasa semakin menjurus dan membuatku terusik oleh keinginan terpendam yang ada di hatiku. Dengan singkat kujelaskan padanya, … “Ah bukan orang bule aja, orang Indonesia juga ada.”

Setelah terdiam sejenak pertanyaan berikutnya membuat gairahku semakin tergugah. “Kalau Neng Mimien gimana?” Walau dengan nada ragu-ragu berani juga dia menanyakannya. Akupun mengaku terus terang, … “Yah saya sih dari dulu juga suka.” Sejenak lagi Adli terdiam lalu terang-terangan bertanya, … “Sama punya Adli mau nggak Neng?” Aku melepas nafas lega, rupanya akan terjadi juga hal tidak-tidak yang dari tadi terbayang olehku. Tapi aku tidak mau terburu-buru, aku masih ingin mempermainkannya dulu. Dengan mimik serius kujelaskan padanya, … “Wah kalau itu sih harus dilamar dulu!” Rupanya tertarik Adli bertanya mengejar, … “Maksudnya dilamar gimana Neng?” Masih tetap serius kupertegas lebih jauh lagi, … “Ya ngelamar anak orang kan biasanya ada syaratnya.” Wajah Adli terlihat agak kecewa, … “Yah kalau pake mas kawin mah Adli nggak punya.” Tidak ingin terlalu lama berjual mahal langsung kujelaskan padanya, … “Maksudnya bukan begitu, syarat sebagai laki-laki ya ITU-nya bisa bangun, besar, panjang, keras sama kuat.” Kembali Adli nampak bersemangat, … “Oh kalau itu sih Adli mampu … Bersedia nggak Neng dilamar Adli?” Aku membisikkan kesediaanku. Lalu Adli berkata dengan penuh keseriusan, … “Neng, bersama ini Adli nyatakan bahwa Adli ngelamar Neng Mimien alias Neng Yasmin dan mampu memenuhi syarat yang diminta tadi …” Kujawab kata-katanya itu, … “Dengan ikhlas saya bersedia menerima lamarannya Adli dan berjanji untuk memuaskan kemauannya.” Walaupun aku sebetulnya bercanda, tetapi semua kulakukan dengan penuh keseriusan. Begitu pula Adli menanggapinya dengan cara yang serius juga.

Sambil tersenyum lega Adli bertanya, … “Terus gimana Neng?” Aku juga tersenyum dan menjawab, … “Terus saya cium.” Dengan bersemangat Adli memyambutnya, … “Aduh mau Neng, ayo dong!” Pada saat bibirku mendarat di atas ‘kepala kemaluan’nya dan mengecupnya Adli mendesah, … “Aduh geli Neng, enak.” Apalagi waktu mulai kujilat-jilat dengan lidahku, ia betul-betul merasakan nikmatnya. Tubuhnya mengejang keras, … “Aduh Neng geli sekali.” Begitu kumasukkan ‘ujung kemaluan’nya yang seperti ‘topi baja’ itu ke mulutku, lalu mulai aku kulum, Adli mengerang panjang. Karena keenakan dia sampai menekan kepalaku ke bawah. Dipenuhi oleh ‘ukuran kejantanan’ lelaki yang sebesar itu aku sampai sulit bernafas. Untung aku sudah cukup berpengalaman dalam hal ’seks oral,’ sehingga dengan mudah aku bisa menyesuaikan gerakan bibir, lidah dan mulutku.

Cerita seks Artis Vina Panduwinata Di Perkosa [fiksi]


Siapa yang tidak kenal dengan penyanyi cantik Vina Panduwinata, di usianya yang boleh terbilang tua, ia masih mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang molek untuk wanita seusianya. Bukan lelaki normal rasanya bila tidak ingin penisnya dihisap bibir tipis si tante Vina, dijepit oleh vaginanya atau dipijit oleh payudaranya yang berukuran 36B itu.

Sejak remaja aku memang mengidolakan Vina Panduwinata, bukan karena suara merdunya, tapi karena kemolekan tubuhnya yang sering kujadikan fantasi dalam beronani. Sampai akhirnya ketika aku dewasa, aku menemukan jalan untuk menikmati tubuh sekal si tante seksi ini.

Berawal dari sebuah event organizer milikku, aku berencana menghadirkan tante Vina dalam acara peresmian salah satu cafe dan karoke milikku. Dari kabar yang kudapatkan, kontraknya bisa mencapai 50-100 juta untuk satu kali show. Bagiku jumlah tersebut cukup seimbang dengan tingkat promosi cafe milikku dan setidaknya memberiku peluang untuk menikmati atau sekedar kenal tante cantik tersebut.

Setelah Roy asistenku mengurus semuanya, akhirnya aku bisa bertemu dengan manajer tante Vina, yaitu bang Roni, di sebuah restoran di ibukota provinsi R di pulau Sumatera.

Dengan bang Roni aku memutuskan untuk mengundang Vina Panduwinata pada awal bulan Februari 2012 dengan kontrak 55 juta, itupun di luar biaya penginapan dan akomodasi. Setelah semua urusan selesai, aku berencana mentraktir bang Roni untuk sekedar minum atau mencari wanita penghibur di kotaku, ya sekedar ucapan terima kasih kepada beliau.

Aku dan bang Roni mulai ngobrol dari hobi sampai pengalaman hidup. Dari sanalah aku tahu bang Roni ternyata punya hobi main wanita, dia mengaku bosan dengan seks konvensional yang selama ini bisa didapatkan dari para pelacur ibukota.

”Kalau bosan, kenapa gak coba sama tante-tante, bang?” aku bertanya. ”Lebih pengalaman, hehe.” tambahku.

”Tante-tante ogah ah, kecuali yang kayak bos gue.” dia menjawab, ikut tertawa.

”Bos? Maksudnya?” aku tidak mengerti.

”Ya yang kayak mbak Vina, hahaha!” dia tertawa makin lebar.

”Wah, kalo tante Vina mah saya juga demen, bang. Apalagi susunya tuh, bawaannya bikin haus mulu, hahaha!” sahutku.

”Hahaha, iya. Tapi susah, Bar. Si mbak itu tampilannya doang yang tante girang, tapi setia kok dia. Pernah sih gue pancing, malah gue nyaris dipecat.”

”Hahaha, kenapa gak diperkosa aja, bang? Habis itu dibunuh,” tawarku.

”Ah, takut gue. Nanti malah jadi arwah penasaran. Tapi kalo ngintip mandi sih gue doyan, sering malah. Hahaha.”

“Waw, serius lu, bang? Toketnya beneran 36B atau cuma pakai bra khusus aja tu?” aku penasaran.

”Wah, kalo lu ngomong toket, kalo ada ukuran 100B gue kasih dah. Gede banget, Bar. Mantap pokoknya!” bang Roni meyakinkan.

”Wahahaha, lebay ah, bang. Fantasi lu kebangetan!” aku tertawa.

”Jadi gak percaya lu, sob? Mau bukti?”

”Oke, yuk ntar kita sobek bajunya pas ketemu, hahaha.”

”Widih, ganas banget loo. Ya gak segitunya kali. Nih buktinya.” bang Roni memberikan hapenya kepadaku.

”Apaan nih, bang?”

”Lu liat aja videonya. Gue sempat rekam waktu intip doi lagi mandi, kalo gak salah sih pas show di Bandung. Widih hampir aja gue nekat buat entotin tuh tante. Tapi masih takut penjara gue, makanya cuman berani rekam aja.”

Di video itu aku melihat betapa moleknya tubuh Vina Panduwinta. Dengan rambutnya yang masih disimpul ke atas, tubuh montoknya basah oleh busa sabun, bahkan nempel sedikit di dagunya. Ia mulai memijit tubuhnya sendiri perlahan. Aku membayangkan busa sabun itu seperti sperma yang belepotan saja, tanpa disadari membuat penisku menjadi tegang.

”Wah, gila lu, bang. Hadiah yang mantap banget nih buat gue.”

”Lu nya baru ngomong sih. Kalo nggak, udah dari tadi gw kasih liat. Lagian anggap aja rasa terimakasih gue buat traktiran minum sama perek yang lu sediain buat gue.” kata bang Roni.

”Wah, itu mah biasa bang dalam bisnis. Gak licin gak mulus, hahaha. Beres, udah diatur si Roy, asisten gue.”

”Wahaha, emang jagonya lu ye...”

”Hahaha, tapi nih video bisa dijadiin bisnis buat lo ma gue nih, bang.”

”Maksudnya?”

”Nanti deh, bang. Kita ngomong di next time aja.”

”Apaan? Penasaran gue kalo udah cerita bisnis, apalagi ada hubungannya sama video ini.”

”Hahaha, okelah. Gini, bang, nih video bisa kita jadiin pegangan buat meras tante Vina,”

”Meras? Maksudnya, meras susunya? Hahaha,”

”Itu salah satunya, bang, hahaha. Kita bisa ancam sebarin video si tante lagi mandi ini buat konsumsi publik di internet, kecuali tante Vina mau nurutin mau kita.”

”Wah, oke tuh. Contohnya gimana?”

”Kontrak kita batalin diam-diam, tapi tante Vina tetap datang buat show disini yang pastinya dengan gratis. Selain itu kita minta 100 juta buat tutup mulut biar kita gak nyebarin video ini, itu pun nanti kalo kita mau bisa kita peras duitnya kapan aja. Yang pasti tuh tante harus ngentot sama gue dan nurutin semua mau gue. Lu pun boleh ikutan make si tante, oke nggak tuh?”

”Wahahaha, gokil lu. Kenapa gak kepikiran dari dulu ya ma gue? Tapi yakin lu si tante bakal mau? Ntar kalo malah nglapor ke polisi dan mecat gue gimana? Mau makan apa gue? Bisa-bisa gie coli mulu gara-gara gak punya duit buat nyewa perek.”

”Hahaha, santai, bang. Dia kalo gak mau ya kita perkosa aja sampai bunting, sampai pingsan kalo perlu. Gue yakin dia gak bakal berani lapor polisi, mana mau dia karirnya hancur dan di cap sebagai tante girang. Lagian kalo lu dipecat, lu bisa kerja sama gue, bang. Gimana, oke gak?”

Bang Roni tampak berpikir.

”Lu bayangin aja, 100 juta kita bagi 2, 50 jutaan. Itu pun bisa kita tambah, minta kapan pun kita mau. Dan yang paling menariknya ya itu, bayangin penis lu dililit memek si tante Vina, dengan suaranya yang merdu dan seksi minta ampun, atau malah minta tambah? Hahaha.”

”Hahaha, emang dasar bajingan lu ya. Oke, gue ikut. Tapi ngomong-ngomong, lama amat nyampai cafenya, gue udah konak nih denger rencana lu. Gak sabar gue mau nyoba perek disini, hahaha.”

”Haha, beres, bos. Semua sudah diatur sama si Roy. Jangan 
over dong, nanti loyo pas entotin tante Vina.”

“Wah, ngeledek lu, liat aja ntar.”

”Hahaha, nih udah sampai. Kayaknya gue lanjut jalan dulu ya, bang, masih ada yang mesti diurus.”

”Yah, kok gak temenin gue?”

”Haha, next time, bang. Mau simpan energi buat tante Vina. Jadi bisa diatur kan semuanya?”

”Beres, bos. Dua hari lagi menurut kontrak, tuh tante girang udah nyampai sini.”

”Haha, oke, bang. Kalo butuh apa-apa langsung aja ke si Roy. Gue cabut dulu.”

”Sip, take care, Bar.”

***

Dua hari kemudian, aku, Roy dan bang Roni menjemput Vina Panduwinata di bandara. Sore itu cuaca sangat mendung pertanda akan hujan. Untung saja acara launching cafeku besok malam, kalau tidak pengunjung dan undangan pasti sepi.

Tidak lama kemudian muncullah Vina Panduwinata, sendirian. Dia memang datang sendiri karena semua peralatan show sudah disediakan oleh anak buahku. Sore itu seperti biasa ia memakai pakaian yang seksi dengan blus ketat hitam dan sweater pink yang menurutku suatu pemborosan karena tidak dapat menutupi belahan payudara montoknya yang putih mulus. Ah rasanya ingin kuremas dan kutelan saja benda itu. Tidak sabar rasanya menunggu malam nanti, malam eksekusi.

”Sore, mbak, gimana perjalanannya? Menyenangkan?” sapa bang Roni basa-basi.

”Menyenangkan apanya! Penumpangnya pada norak, minta foto semua. Ayo kita langsung ke hotel, males aku lihat fans yang sok akrab.” jawab Vina Panduwinata ketus.

”Ohh... oke, mbak. Oh iya, kenalkan ini pak Bara yang saya ceritakan. Beliau pemilik cafe sekaligus bos event organizer yang mengundang kita.” kata bang Roni.

”Sore, tante. Senang bisa bertemu tante.” ujarku sambil menyodorkan tangan bersalaman.

”Yaph,” jawabnya sambil tersenyum simpul dan membalas salamku.

Di perjalanan, suasana mobil hening. Ternyata sosok lembut di TV cuma kedok untuk imagenya tante Vina saja, pikirku. Aslinya dia sangat angkuh dan sombong, memang pantas lah untuk dijadikan perek malam ini. Kuperhatikan sambil menyetir, Roy mencuri-curi pandang pada tante Vina lewat spionnya. Aku yang duduk di samping Roy cuma bisa tersenyum sambil sesekali melihat bang Roni yang memberikan kode dengan kedipan liciknya. Ah rasanya sungguh tidak sabar menunggu malam nanti.

Sesampainya di hotel, senja yang dingin kota ini, ditambah hujan deras yang memang sedang musimnya, membuat udara jadi sangat dingin. Aku dan bang Roni menunggu di lobi, sementara tante Vina sudah menuju kamar vip nya yang sudah aku sediakan. Menurut jadwal, pada pukul sembilan aku akan meeting singkat dengannya dan bang Roni di kamar tante Vina tentang penjelasan singkat konsep acara besok malam serta jadwal latihannya.
Saat itulah aku dan bang Roni berencana menjalankan aksi kami untuk menggilir tante cantik itu.

Tidak terasa sudah jam sembilan malam, hp bang Roni berbunyi, ternyata bbm dari tante Vina yang sudah selesai mandi dan siap untuk meeting singkat sebelum makan malam. Kami berdua pun segera bergegas menuju ke kamarnya, bukan untuk meeting, tapi untuk berpesta menggilirnya, hahaha.

Di kamar, kami bertemu Vina Panduwinata dengan rambutnya yang diikat ekor kuda. Dia memakai gaun hitam yang tetap menampakkan belahan dadanya yang membuatku semakin horni.

”Malam, mbak. Gimana, enak hotelnya?” bang Roni bertanya.

”Biasa aja. Disini hotelnya gak ada yang lebih bagus ya?” jawab Vina judes.

”Aduh, saya selaku panitia mohon maaf, tante. Tapi ini sudah hotel terbaik yang ada di kota ini. Maaf untuk ketidaknyamanannya.” ujarku. Dalam hati aku berfikir: sekarang si tante ini masih bisa sombong, tapi sebentar lagi dia akan menjadi budak seksku, hahaha.

”Ah, udahlah, gak usah alasan. Sudah langsung saja, konsep acaranya gimana?” tanya tante Vina.

”Gini, mbak, sebelum kita bicara bisnis, saya akan jelasin prospeknya dulu. Silahkan, Bar.” ujar bang Roni sambil memberikan hapenya kepadaku.

”Gini, tante, sebelumya silahkan tante lihat dulu konsepnya gimana. Silahkan, tante.” kuberikan hape bang Roni yang berisikan video mandinya pada wanita itu.

Begitu melihat video dirinya sedang bugil, Vina terkejut bukan main. Wajahnya langsung memucat, sementara kami tersenyum licik. Bang Roni malah mulai mengelus-elus selangkangannya sendiri.

”Apa-apaan ini? Maksudnya apa?” teriak tante Vina, marah.

”Maksudnya ya itu, tante, ada perubahan perjanjian kontrak.” aku menyeringai mesum.

”Tolong jelaskan, Ron, apa-apaan ini?! Kenapa kamu bisa berurusan dengan bocah bajingan seperti ini?!”

”Hahaha, relax, mbak Vina. Video itu saya dapatkan waktu kita show beberapa bulan yang lalu,” jawab bang Roni.

Vina Panduwinata mendelik makin lebar. ”Dasar kamu...”

”Oke, langsung ke bisnis aja, tante.” kupotong ucapannya. ”Saya cuma minta tebusan 100 juta untuk tahap pertama ini, ditambah tante show gratis dalam launching cafe saya besok malam, juga show tante malam ini. Kecuali tante mau video ini dinikmati banyak pria di internet untuk bahan onani mereka, bahkan tersebar di infotainment dengan judul BEREDARNYA VIDEO BUGIL SI TANTE GIRANG VINA PANDUWINATA. Hahaha!”

”Bajingan kalian! Tapi baiklah, saya setuju. Jangan sebarkan video ini. Saya harus show dimana malam ini? Tapi saya belum latihan.”

”Ya show di kamar ini, tante. Show your big tits, bitch! Hahaha, tante juga bisa nyanyi, tapi nyanyi sama kontol aku aja ya?” ledekku.

”Bangsaaat!!!” ia berlari ke arah pintu.

”Hahaha, silahkan kabur, tante, kecuali tante cukup siap untuk nonton infotainment beberapa hari lagi. Lagian pintunya sudah saya kunci kok, mau nggak mau tante tetap akan jadi pelacur malam ini. Bahkan silahkan saja kalau tante mau lapor polisi.” aku mengancam.

”Ah, tolong lepaskan saya. Saya akan bayar berapapun untuk video itu.” tante Vina menghiba.

”Hmm, kalau uang saya mau sih. Tapi nanti aja ya, sayang, sekarang saya mau tubuh tante dulu. Ayo, tante, sini.” kulambaikan tanganku.

”Cuiiiih...!!!” dia meludah ke arah kami.

”Dasar si bos, masih aja sombong.” kata bang Roni.

”Ini bisnis, tante. Saya tidak punya banyak waktu. Saya hitung sampai tiga, buka gaun tante yang seksi itu, atau kami sebarkan video ini. Pilih mana, tante? Kami pun tidak ingin kasar. Satu... dua... tii...”

”T-tunggu! Oke, baiklah, saya akan turuti mau kalian.” ujarnya sambil matanya mulai meneteskan air mata. ”Bajingan kalian!!” umpatnya lirih.

Vina pun mulai membuka gaun hitamnya yang seksi itu, ia melakukannya perlahan hingga tersisa bra dan cd mininya yang berwarna krem. Terlihatlah bukit payudaranya yang memang sangat indah dan montok, seakan ingin menyobek branya dan meloncat keluar. Juga memeknya yang tebal tercetak jelas dibalik celana dalamnya.

”Hmm, lumayan untuk mengalahkan pelacur daerah sini. Ayo buka dalamannya, tante.” aku memerintah lagi.

”Hiks, tidak. Saya mohon, hikss.” ujarnya sambil menangis, merasa sangat terhina.

”Ayo buka!!! Dasar perek sok jual mahal!” hardikku tak sabar.

Perlahan tapi pasti, dengan malu-malu Vina membuka bra dan celan dalamnya. Setelah terbuka semua, dengan kikuk ia menggunakan tangan kirinya untuk menutupi tonjolan payudaranya yang seakan ingin terlepas dari tubuhnya karena saking montoknya. Sedang tangan kanannya menutupi lubang memeknya yang dikelilingi bulu-bulu tipis. Sangat menggairahkan menurut pandanganku.

”Hahaha... gimana, Bar? Persis kayak yang di video kan?” kata bang Roni.

”Mantep banget, bang. Hahaha!” aku membenarkan.

”Emang bajingan jenius lu, Bar. Coba aja ini kefikiran dari dulu, mungkin anak gue di rahim mbak Vina udah bisa jalan ya sekarang?!”

”Hahaha, sabar, bang. Malam ini kita pesta!”

Sementara itu, di depan kami, Vina menangis pilu. Dia merasa sangat terhina. Meski penampilannya yang seksi selama ini, dia selalu menjaga kesetiaan pada sang suami. Tapi malam ini dia harus telanjang di depan dua pria bajingan yang jauh lebih muda darinya. Bahkan hampir pasti sesaat lagi tubuh indahnya yang selalu dia jaga selama ini akan menjadi tempat pembuangan sperma dari dua pria bajingan ini.

”Oke, sayang, sekarang ayo sini dan berlutut di depan kami. Let’s go bitch!!!” perintahku.

Aku dan bang Roni mulai membuka resleting celana kami masing-masing, bersiap menerima service oral dari Vina Panduwinata yang selama ini dikenal anggun di kalangan selebriti.

”Sekarang kulum kontol kami. Kalau sampai lu gigit, gue bakar puting lu!” aku mengancam.

”Hikss, saya mohon, saya belum pernah... hmmpp!”

Karena sudah tidak tahan lagi, aku langsung mendorong ke depan kepala tante Vina yang sudah berada di dekat selangkanganku. Kontolku yang sudah tegang pun langsung melesat masuk ke dalam bibirnya yang tipis. Segera aku maju mundurkan kepala tante Vina.

”Ahh, nikmatnya mulutmu, tante. Mmmm... ahhh... nice, honey... aararrgg...”
aku mendesis keenakan.

”Hhmpphh... slpphh… hmmphhh… slppphh…” tante Vina terus mengulum penisku.

”Ayo, tante, mana nyanyiannya! Aaaarghhh…” aku makin mengerang penuh kenikmatan.

Bang Roni yang tidak sabar, meraih tangan Vina agar mengocok penisnya. Karena segan, akhirnya aku pun berdiri dan mengajak bang Roni untuk berdiri juga. Di tengah kami, berlutut Vina Panduwinata dengan tubuh montoknya yang siap untuk melayani kami berdua.

”Ayo gantian dong, mbak.” kata bang Roni sembari menyodorkan penisnya ke mulut tante Vina yang sedang mengulum penisku. “Aaaarggg… nikmatnya mulutmu, mbak... arrghhh… nikmat... aaaoouuughhh… ahhh…” dia mengerang saat wanita itu mulai menghisap penisnya juga.

Aku hanya tertawa terbahak melihat bang Roni yang penisnya disedot bibir tipis yang bersuara merdu milik Vina Panduwinata. Sambil menunggu giliran, aku mendapat service kocokan dari tangan kanan tante Vina. Kubalas dengan meremas payudaranya yang tidak bisa kugenggam penuh dengan kedua tanganku. Rasanya sangat empuk dan lembut sekali. Aku menyukainya.

Tidak tahan, aku pun mendorong lagi kepala tante Vina ke arah kontolku. Dia kembali mengulum penisku. Sambil terus meremas-remas tonjolan buah dadanya, kunikmati hisapan mulutnya. Rasanya begitu nikmat, membuatku tidak tahan. Merasa akan keluar, aku pun mempercepat dorongan kepala tante Vina Panduwinata.

”Aaaarrrhhhh… aku keluar, tante. Telan semua spermaku, aaarghhh…” jeritku saat crooot... ccroot… croott… air maniku tumpah ke mulut tante Vina.

”Slurph... hmpph… mmpphh…” dia berusaha menelan semuanya, tapi… “Huekk… uhuk… uhuk…” dia tersedak dan terbatuk-batuk.

”Beraninya tante membuang spermaku!” Plak! Kutampar wanita cantik itu. ”Telan sperma gue, perek!” hardikku bengis.

”Sudah, jangan emosi, Bar. Dasar anak muda.” kata bang Roni menenangkan.

“Gila, mantap banget mulut si tante ini, bang.” aku mendengus keenakan.

Sementara itu Vina Panduwinata menangis terisak dengan dagunya belepotan spermaku yang tak bisa tertelan olehnya.

”Lu nggak ngecrot, bang?” aku bertanya pada bang Roni.

”Nanti lah, gue jaga stamina dulu. Malam masih panjang, hahaha. Minum yuk?” ujar bang Roni sambil menyulut rokoknya.

Aku pun mengambil bir di kulkas dan meminumnya, lalu kuberikan pada bang Roni. Kutoleh tante Vina yang masih bersimpuh di lantai dengan tubuh telanjang. ”Hei perek, siapa suruh lu diam hah! Sekarang berdiri, aku mau tante menari di depan kami. Ayo!!!” bentakku.

Vina Panduwinata dengan lemas berdiri dan mulai menari dengan kakunya. Payudaranya yang besar tampak terpantul-pantul indah saat dia bergerak.

”Ayo, mbak, kocok memekmu. Dalam lima menit kamu harus orgasme dengan jarimu!!! Ya kecuali mbak mau putingnya saya jadiin asbak, hahaha.” ancam bang Roni.

Vina pun menari sambil masturbasi dengan jarinya. Dia meremas-remas payudaranya sendiri sambil sesekali mendesah. Sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan, seorang wanita paruh baya berpayudara montok telanjang menari erotis di hadapan kami sambil bermasturbasi.

”Ayo, mbak. Waktunya tinggal dua menit lagi. Ayo mainin jari mbak, kalau nggak sampai croot, putingnya siap-siap aja bakal gosong.” ancam bang Roni lagi.

”Hahaha, ayo, tante! Ayo semangat!” aku ikut berteriak.

Vina Panduwinata dengan tangisnya yang semakin pilu mempercepat permainan pada memeknya hingga ia klimaks beberapa menit kemudian. “Aaaaahh… tidaaakkk… ahhh... ougghhh... croott... proot… croott…”

”Hahaha, nyemprot nih yeeee!!” ejekku.

Setelah itu Vina hanya tergolek lemas di lantai dengan air matanya yang mulai mengering, ditambah tubuhnya yang berkeringat, sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan.

”Gimana, Bar? Masih sanggup lo?” tanya bang Roni.

”Sanggup dong, bang! Masak cuma crot di mulut doang? Tapi gue mau ngumpulin tenaga dulu.” kataku.

”Hahaha, emang mantep banget ya tante satu ini?”

”Gile, kayak kontol saya mau ditelan aja, bang. Nikmat banget!”

”Wuiss, boleh dicoba tuh. Woi perek, bangun lu!” bang Roni memanggil tante Vina.

”Udah, Ron. Pliss, mbak udah nggak sanggup lagi. Hiks!” Vina menangis.

”Nggak sanggup? Anjing! Baru gitu aja udah capek lu. Ayo isep penis gue!” bang Roni membentak. Dia memberikan kontolnya yang super tegang pada wanita cantik itu.

”Ron, pliss ah... hmpph!”

Dengan paksa bang Roni memasukkan kontolnya ke dalam mulut Vina Panduwinata. Melihat adegan tersebut, penisku pun tegang kembali. Ketika Vina sibuk mengulum penis Roni, segera kuseret kakinya hingga ia menungging. Lalu aku gesekkan penisku ke lubang anusnya secara perlahan.

”It’s show time, honey...!!” dengan sekali hentakan, kusodokkan penisku ke lubang itu. ”Aahh... enaknya, tante! Waw, masih perawan ya pantatnya? Hhhaaa... hmmm... ahhh...” aku merintih keenakan.

”Hhmmphh... hmmpphh... sakiiit! Hhppphh... ahhh... cabut! Jangan di pantatku! Ahhhh... ampuunn!” Vina merintih kesakitan saat aku mulai menyetubuhi tubuh montoknya.

”Hahaha... iya, sayang. Nanti dipindahin ke memeknya, tapi sabar ya... pantat semok tante ini mesti dicoba dulu, hhahaa... ahhhh... arrrgghhh...” kataku sambil kuremas dan kutampar pantat Vina yang sekal.

Vina hanya mendengus kesakitan karena mulutnya penuh dicekoki penis besar bang Roni yang memperkosa bibir seksinya dengan ganas.

”Pereek, telan peju gue! Ahhhh... croooottt... croootttt...” bang Roni menggeram dan memuntahkan spermanya.

”Hmpmhp... hmmphhh...” dengan susah payah Vina berusaha menelan semuanya. Mau tidak mau dia terpaksa melakukannya karena kepalanya ditahan oleh tangan bang Roni yang kasar.

Setelah itu bang Roni duduk menontonku yang sedang menggenjot anus tante Vina dari belakang. Menetes sedikit darah dari anusnya yang perawan.

”Ampun, dek Bara! Ampuun... hiks... ahhh... ampuuunn!” wanita itu menghiba.

”Diam, sayang! Ahhh... ughh.. aku lagi nikmat nih.” kugenjot terus tubuhnya sambil kuremas-remas payudara tante Vina yang menggantung indah dengan kedua tanganku.

”Tidak! Sudah! Aku mohon, ahhh...” ujar Vina meratapi kemalangan nasibnya.

Setelah mulai bosan dengan anusnya, aku pun membalik tubuh wanita cantik itu. Dengan paksa aku buka lebar pahanya. Terlihatlah vaginanya yang masih lembab karena orgasme yang dicapainya pada saat masturbasi tadi. Aku tahan tangannya sambil tangan kiriku menggesekkan penis ke lubang vaginanya.

”Hmm, kalau ini gak sesakit yang tadi, tante. Udah lebar gini... hhaaa... siap? Niihh!” lalu kuhentakkan penisku ke memek Vina, ”Agghhh... gila! Rasanya nikmat sekali!”

”Jangan! Jangan masukkan! Aku lagi subur! Oh tidak, jangan! Ahhh...” tante Vina menjerit.

”Memek tante masih legit banget ternyata, aughhh... ahhhh... ahhhh...” aku merintih keenakan. Ternyata vagina Vina Panduwinata masih cukup sempit, entah karena jarang dipakai atau perawatan medis. Yang aku tahu aku sedang menikmati surga malam ini, hahaha.

”Gimana, sayang? Enak?” tanyaku sambil meremas-remas payudaranya. ”Ahhh... nikmat kan? Mmmm... argghhh!”

”Aarrggg... lepaskan! Aku mohon! Aaahhh... sakit! Ampuuun... ahhhhh...” Vina menjerit saat aku menggenjot tubuhnya semakin cepat.

”Iya, sayang, nanti aku lepaskan. Aku lepaskan calon anak kita, hahaha!”

Mendengar itu, tangisan Vina semakin menjadi. ”Ahh, jangan! Oh tidak... aku akan oral kamu, tapi tolong jangan di dalam! Ahhh... tidak! Aku mohon...”

”Wahahaha... gue raja, lu budak. Semau mau gue donk, hahaha... rasain lu perek sombong. Dasar tante girang! Ahhhh... siapa suruh pakai baju seksi?!” kutampar bokong indahnya. ”Kenapa gak telanjang aja sekalian?!” kupilin puting susunya dan kutarik keras-keras.

Tangisan Vina menjadi semakin keras. ”Auhh... sakit! Ampun! Ahhhh... tidak! Ughhh... ouuuhhhh... ouhhhh...”

”MUNAFIK!!! Sok nolak padahal suka, hahaha! Ayo, sayang, muach...” kukulum payudara Vina sambil mempercepat genjotanku pada lubang memeknya.

”Mmm... hikss! Ahhh... cukup, Bara, cukup!” ia menggeliat-liat dan meronta-ronta.

”Iya, sayang, ahhh... bentar lagi. Ahhh... ahhh... aku keluar, tante... ahhh... ahhh... arghhh!!!” mengejang, kusemprotkan spermaku ke dalam memeknya.

”Tidak, tidak, tidaaaak!!! Cabut! Jangan di dalam! Tidak, oh tidak! Toloong!” Vina menghiba.

”Aaaarrrghhhhhhhh...” Rasanya penisku patah karena saking nikmatnya jepitan memek Vina.

”Bangsat kamu! Dasar bajingan!” teriaknya sambil memukul-mukul dadaku.

”Hahaha... titip anak saya ya, tante.” bisikku sambil kupijit lembut bulatan payudaranya, menikmati sisa-sisa klimaksku di dalam vaginanya.

”Ooii, Bar. Terlalu mendramatisir loo. Udah, giliran gue sekarang!” kata bang Roni.

”Gila, legit banget, bang. Kayak ngentot sama perawan!” kucabut penisku dan kuberikan tubuh montok Vina pada laki-laki itu.

”Ah, lebay lu!” bang Roni menerimanya dengan senang hati.

”Beneran, test aja kalau gak percaya. Hahaha,” aku rebahan di ranjang karena kelelahan.

”Gak disuruh pun pasti gue kerjain, Bar. Hahaha!” dia pun menggantikan posisiku menggenjot tubuh mulus Vina Panduwinata yang setengah sadar. ”Ah taik, berasa ngentot sama mayat kalau diem gini!” umpatnya menghadapi kekakuan Vina.

”Udah, siram aja, bang. Hahaha!” aku mengusulkan.

”Widih, sadis amat lu! Pakai cara ini aja...” selesai berkata, bang Roni tiba-tiba menggigit puncak payudara Vina dengan begitu kerasnya. Kraussh!!!

Vina langsung tersadar dan menjerit kesakitan. ”Ahhh... sakit! Ahh... ampuuuun!”

”Gitu dong, sekarang ayo mbak layani aku, hahaha.” bang Roni tertawa penuh kemenangan.

”Udah, Ron. Aku mohon! Ahhh... ahhh...” Vina merintih.

Tok-tok-tok!

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. Kami pun was-was, lalu dengan pelan kubuka pintu. Ternyata si Roy, asistenku. Dia langsung terbelalak melihat kejadian menggairahkan di depan matanya.

”Bos, di bawah ada yang mau ketemu,” dia berkata.

”Siapa?” tanyaku.

”Orang dari polda, boss. Katanya penting.” jawab Roy.

”Ah sial, duit keluar lagi.” umpatku. Aku tahu pasti, oknum itu pasti minta duit keamanan untuk salah satu bisnis karokeku.

”Wah, enak nih. Ikut dong, bos.” Roy nyeletuk. Matanya tak berkedip menatap tubuh bugil Vina yang lagi dientoti oleh bang Roni.

”Hahaha, lu mau? Antri ya!” sahutku.

”Ahh, cukup! Aku gak sanggup lagi...” rengek Vina menghiba.

”Ah, diem lu, perek! Layanin gua aja, ahhh... ahhh...” bentak bang Roni.

”Bang, ribut mulu tuh mulutnya. Saya sumpal pakai kontol aja ya, boleh?” Roy meminta.

”Aah, lo pake ikutan segala... ntar ah!” bang Roni keberatan. Dia tidak mau membagi tubuh molek Vina dengan Roy.

”Siap, bos!” kata Roy kecewa.

Bang Roni kemudian mencabut penisnya dan duduk di atas dada montok Vina. Dia menjepitkan kontolnya di tengah payudara vina yang besar. ”Gue gak mau ngehamilin lu, mbak.” katanya sambil menggerakkan penisnya maju mundur.

Di saat itulah, melihat memek Vina yang nganggur, Roy segera mengambil kesempatan. Dia melepas celananya dan langsung menyodok memek tante Vina dengan penisnya yang sudah tegang. ”Ahh... seret banget memek tante! Ahhh... nikmat! Ahhh...” Roy merintih-rintih keenakan.

”Stop! Pliss, aku mohon, lepaskan! Jangan! Ahhh...” rengek Vina saat diperkosa atas bawah.

”Wew, manteep tenan! Ahhh... ampun deh, aku keluar! Arghhh...” Roy bangkit dan mengocok penisnya di wajah Vina Panduwinata. ”Crooot... crooot... crooot...” spermanya yang kental berhamburan membasahi muka penyanyi cantik itu. ”Nikmaaaat... aahhhhh...” Roy merintih keenakan.

”Ahh, banci lu, Roy. Baru satu menit udah ngecrot!” ejek bang Roni.

”Habis enak banget sih, bang.” Roy membela diri. ”Sama perek melar aja gue cuma bisa tahan lima menit, apalagi sama seleb montok kayak gini, hahaha.” tambahnya.

”Haha, minum jamu dong.” kata bang Roni. Dia terus mengocok penisnya dengan menggunakan payudara Vina Panduwinata yang bulat montok. ”Ahhh... gue nggak tahan lagi! Ahhh...” dia pun bangkit dan mengarahkan penisnya ke wajah Vina yang masih belepotan sperma si Roy. ”Ooi, buka mulut lu!” dia berkata.

Vina menggeleng, ”Tidak, jangan! Aku mohon! Ampun!”

”Buka mulut lu, anjing!” bang Roni memaksa penisnya masuk, dan... ”Ahh... ahh...” crrooot, crooot, crooot, dia pun menumpahkan spermanya ke mulut Vina Panduwinata yang mau tak mau harus menelannya. Aku hanya bisa tertawa menyaksikan ulahnya itu.

Setelah memakai baju, kutinggalkan ketiga orang itu untuk menemui tamuku di bawah. Gak tahu apakah mereka akan nambah lagi apa tidak.

Paginya saat aku kembali ke kamar Vina Panduwinata, kutemukan Roy yang tertidur pulas di sofa dan bang Roni yang terkapar di ranjang. Sementara Vina tergeletak lemah dengan sperma belepotan di vagina, wajah bahkan nyaris di seluruh tubuhnya.

Sorenya, aku menunggu bang Roni di kantorku. Laki-laki itu datang dengan wajah yang berbinar. Ternyata setelah aku pergi semalam, mereka kembali memperkosa Vina Panduwinata bergantian. Kasihan juga tante Vina, pikirku, karena nanti malam dia juga akan kerja. Bukan hanya show di cafeku, tapi juga melayani polisi bejat yang jadi bekinganku. Yah daripada keluar duit, mending disogok pakai tubuh Vina Panduwinata sesuai perjanjianku tadi malam.

Malam yang dinanti pun tiba, Vina Panduwinata hadir sebagai bintang tamu dalam launching cafeku. Sempat khawatir tante cantik itu tidak fit karena semalam baru saja kami gilir habis-habisan. Tapi show must go on.

Vina tetap tampil memukau dengan kebaya seksinya yang masih saja menampakkan belahan dadanya. Aku, bang Roni dan Roy hanya tertawa menikmati suasana. Di sudut jauh, tersenyum bapak B, si kasatreskrim yang sepertinya sudah tidak tahan menikmati tubuh montok Vina Panduwinata.

Pukul satu malam, setelah acara usai, Vina pun kembali ke hotel. Disana sudah menunggu pak B yang sudah sangat tidak tahan. Sementara di lobi hotel, aku berpamitan pada bang Roni sambil memberikan rekeningku untuk menerima bagianku 50 juta dari hasil memeras Vina.

Esok siangnya, bang Roni dan Vina Panduwinata kembali ke jakarta.

Beberapa bulan kemudian tersiar berita di infotainment bahwa Vina Panduwinata hamil tua. Aku tidak tahu entah itu anakku, bang Roni, Roy, atau malah bapak B, yang ku tahu masih sering ngentotin Vina di Jakarta.

Ingin rasanya aku liburan kesana atau meminta Vina ke kotaku sekedar untuk menikmati tubuh moleknya lagi. Ya tapi begitulah, kesibukan mengurus bisnis membuatku menunda surga dunia sementara. OH, TANTE VINA PANDUWINATA. Hahaha!!!